Sabtu, 02 Januari 2010

Simbol-simbol yang seputar pernikahan adat betawi

Masyarakat betawi yang berdomisili di Jakarta dulunya disinggahi oleh berbagai suku bangsa. Peninggalan budaya India, Arab, Cina, Belanda dan lainya berbaur dengan kebudayaan betawi itu sendiri yang merupakan bagian dari karakteristik budaya betawi sekarang ini atau kebudayaan betawi yang kita kenal. Hal itu artinya budaya betawi merupakan percampuran antara berbagai macam elemen budaya yang melebur menjadi satu yang menghasilkan kebudayaan betawi.

Suku betawi sangat memuja kesenian, salah satunya adalah tari Tanjidor yang memiliki latar belakang dari budaya Belanda. Kesenian lainnya yaitu Keroncong Tugu yang dilatar belakangi oleh budaya Portugis-Arab serta Gambang Kromong yang dilatar belakangi oleh budaya Cina. Selain kesenian tersebut, tata cara pernikahan adat betawi juga unik karena mereka selalu menggunakan simbol roti buaya. Roti buaya melambangkan kesetiaan. Jika dilihat dari sejarahnya bahwa buaya laki-laki itu hanya setia kepada satu pasangan buaya perempuan. Sampai mati. Lain halnya dengan masyarakat lain yang melambangkan buaya sebagai laki-laki yang suka berganti-ganti pasangan atau dengan kata lain tidak setia dengan pasangannya. Maka masyarakat betawi justru kebalikannya, mereka melambangkan buaya sebagai lambang kesetiaan. Selain lambang kesetiaan, buaya juga termasuk hewan perkasa karena dapat hidup di dua alam. Hal ini juga dapat dijadikan perlambang dari harapan agar rumah tangga menjadi tangguh dan mampu bertahan hidup dimana saja. Biasanya roti buaya dibawa pada saat pernikahan masyarakat betawi adalah tiga macam roti, yang pertama adalah roti buaya jantan, yang kedua roti buaya betina dan yang ketiga adalah roti buaya anakan. Roti buaya ini dibuat sepasang, yang betina ditandai dengan roti buaya kecil yang diletakkan diatas punggung atau disampingnya. Maknanya adalah kesetiaan berumah tangga sampai ke anak cucu. Peningset ini harus dijaga sepanjang perjalanan sang mempelai pria ke rumah mempelai wanita agar tetap mulus sampai ke tangan mempelai wanita, karena roti buaya yang retak adalah pertanda buruk. Sebenarnya masyarakat betawi bisa saja membuat roti buaya tersebut dengan menggunakan kayu agar tidak mudah retak, namun mereka tidak mau karena masyarakat betawi paling pantang memiliki patung karena bisa dianggap sebagai berhala. Selain itu roti memiliki makna sebagai lambang kemapanan, karena ada anggapan bahwa roti adalah makanan orang-orang kaya. Setelah selesai akad nikah biasanya roti-roti buaya tersebut dibagi-bagikan kepada saudara-saudara kedua mempelai yang belum menikah dengan harapan agar saudara-saudara kedua mempelai yang belum menikah agar segera mendapatkan jodoh-jodohnya dan segera menikah. Untuk ukurannya biasanya roti buaya memiliki panjang 50 cm atau tergantung si pemesan untuk dibawa pada acara seserahan. Roti buaya adalah makanan yang selalu ada pada acara pernikahan masyarakat betawi yang makanan pokoknya adalah beras seperti masyarakat Indonesia pada umumnya dari sabang sampai merauke. Jadi orang yang menamakan dirinya adalah orang Indonesia yaitu setelah orang tersebut makan nasi. Jadi kesimpulannya adalah roti buaya adalah peninggalan dari sang penjajah yang makanan pokoknya adalah roti.

Untuk adat prosesi pernihakan betawi banyak sekali menggadakan serangkaian prosesi. Yang pertama yaitu prosesi perkenalan atau melalui “Mak Comblang”. Kemudian lamaran, pingitan dan siraman. Prosesi potong cuntung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang diapit lalu di gunting. Kemudian dilanjutkan dengan malam pacar, yaitu malam dimana sang mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar. Kemudian dilanjutkan dengan puncaknya yaitu akad nikah.

Gambaran dari tradisi betawi yaitu meriah dan penuh warna warni. Ketika rombongan keluarga sang mempelai pria datang ke rumah sang mempelai wanita diiringi dengan letusan petasan, Tanjidor, Marawis (dinyanikan dengan bahasa arab oleh para pemain rebana) serta ondel-ondel. Ondel-ondel dalam budaya betawi selalu menjadi simbol dimana ada ondel-ondel pasti ada banyak orang yang berkumpul disana dan digunakan untuk memeriahkan arak-arakkan, seperti mengarak pengantin, sunatan dan lain sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-perayaan umum seperti ulang tahun hari jadi kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah. Cara pembuatan ondel-ondel yaitu dengan disediakan sesajen, yang antara lain berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan sebagainya, disamping sudah pasti di bakari kemenyan. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantiasa diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut “Ukup” atau “ngukup”. Dahulu ondel-ondel dalam kebudayaan Cina dikenal dengan barongsai, dimana fungsinya adalah sebagai pengusir roh-roh jahat, karena pada mulanya ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang sebagai pelindung keselamatan kampung dan seisinya.

Mempelai pria berjalan sambil menuntun kambing yang merupakan ciri khas keluarga betawi dari Tanah Abang. Prosesi “Palang Buka Pintu” akan dilaksanakan apabila mempelai pria telah tiba didepan rumah mempelai wanita. Prosesi “Palang Buka Pintu” yaitu prosesi dimana wakil kedua keluarga mempelai saling berbalas pantun dan silat. Prosesi tersebut maksudnya adalah untuk ujian bagi mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanitanya. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria.

Pada saat akad nikah, keluarga mempelai pria akan membawa hantaran-hantaran diantaranya adalah:

  1. Sirih, gambir, pala, kapur dan pinang artinya segala pahit, getir, dan manisnya kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami dan istri.
  2. Maket Mesjid, maksudnya adalah agar mempelai wanita tidak lupa akan kewajibannya kepada agama dan harus menjalani shalat serta mengaji.
  3. Kekudung, berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan sebagainya.
  4. Mahar atau mas kawin dari pihak pria untuk diberikan kepada mempelai wanita.
  5. Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, kosmetik, sepasang roti buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami serta selalu mencari makan bersama-sama.
  6. Petise yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misal : wortel, kentang, bihun, buncis dan sebagainya.

Setelah acara tersebut dilanjutkan dengan akad nikah yang kemudian berlanjut dengan penjemputan pengantin wanita. Kedua pengantin dinaikkan ke dalam delman yang sudah dihias dengan masing-masing seorang pengiring. Kain pelekat warna hitam menutupi delman agar tidak kelihatan dari luar. Dengan kain hitam yang dilekatkan pada delman itu juga menandakan bahwa pengantin akan dibawa ke penghulu. Pada resepsi pernikahannya, pengantin pria menggunakan baju pengantin yang merupakan baju kebesaran. Ada pengaruh luar pada busana pengantinnya. Pengantin pria dipengaruhi oleh budaya arab sedangkan pengantin wanita dipengaruhi oleh adat Tionghoa






sumber :

1. http://faisal14.wordpress.com/2009/11/10/contoh-makalah-roti-buaya-sebagai-simbol-pernikahan-adat-betawi/

2. http://www.swaberita.com/2008/04/24/nusantara/tradisi-kemeriahan-pernikahan-adat-betawi.html

3. http://www.facebook.com/note.php?note_id=97943101226